DAMPAK KEBIJAKAN PENGURANGAN SUBSIDI HARGA

BAHAN BAKAR MINYAK TERHADAP KINERJA INDUSTRI

HASIL HUTAN KAYU

Oleh Satria astana

( Impact of Oil Price Subsidy Reduction Policy on Performance of

Wood Products Industry )

 

Subsidi harga BBM dihitung sebagai selisih antara penjualandalam negeri produk BBM dengan komponene biaya pokok pengadaan BBM. Tahun Anggaran 1998/1999 besarnya subsidi harga BBM yang dibayarkan oleh pemerintah kepada Pertamina adalah Rp 27.5 triliun. Nilai subsidi BBM ini merupakan selisih dari penjualan BBM dalam negeri sebesar Rp 22.5 triliun dan komponen biaya BBM sebesar Rp 50 triliun.

Kenaikan  harga BBM di khawatirkan mendorong lebih jauh penurunan kunerja industri hasil hutan kayu ini dikarenakan BBM adalah salah satu komponen penting dalam industri kayu.dalam keadaan permintaan konstan pengurangan subsidi atau kenaikan BBM diindustri kayu akan menurunkan jumlah permintaan dan menaikan harga. Dan dalam kondisi penawaran konstan penurunan permintaan akan menyebabkan penurunan pada harga dan jumlah penawaran.

Kesimpulannya kenaikan harga BBM dengan adanya subsidi dari pemerintah cenderung inelastis, hal ini disebabkan keterbatasan barang komplementer dan substitusi BBM dan juga total revenue sangat dipengaruhi oleh subsidi dari pemerintah kepada pihak industri.

 

The impact of advertising on consumer price sensitivity

in experience goods markets

Tülin Erdem & Michael P. Keane & Baohong Sun

Pemasaran atau  periklanan dapat mempengaruhi sensitivitas harga pada suatu barang. Penelitin yang dilakukan di Chicago dan Atlanta atas 18 merek pada sikat gigi, pasta gigi deterjen dan saus kecap. Dari penelitian tersebut dapat dilihat iklan dapat menyebabkan suatu produk dikenal di masyarakat, produk yang dikenal di masyarakat akan mendapatkan kepercayaan dari konsumen. Biala kepercayaan konsumen semakin tinggi maka loyalitas konsumen  kepada barang tersebut pun semakin tinggi dan brand semaki terkenal, sehingga masyarakat tidak akan memperdulikan tingkat harga produk tersebut. inilah yang menyebabkan  berkurangnya sensitivitas konsumen terhadap harga barang tersebut.

Pada indikator ini sensitivitas harga ditentukan oleh seberapa banyak dan dalamnya informasi yang didapati konsumen mengenai harga dan kualitas barang tersebut. dalam penelitin tersebut terlihat bahwa konjsumen yang memiliki informasi lebih banyak tantang barang tersebut akan semakin rendah tingkat sensitivitas harga konsumen tersebut dan begitu pun sebaliknya.

Kesimpulannya ikan dpat mempengaruhi elastisitas harga pemintaan dalam  dua cara yaitu, iklan mempengaruhi parameter konsumen akan  harga suatu barang. Sehingga konsumen akan lebih atau kurang sensitif terhadap harga. Yang kedua iklan akan memperngaruhi komposisi konsumen yang membeli merek tertentu, sehingga konsumen rela membayar untuk merek tertentu . ini akan meningkatkan tingkat elastisitas harga dari permintaan yang dihadapi.

 

Price and Income Elasticities of Residential Water Demand

Jasper M. Dalhuisen, Raymond J.G.M. Florax, Henri L.F. de Groot and Peter Nijkamp

Pada tahun 2011 terjadi permasalah mengenai elastisitas permintaan terhadap air di USA dan Eropa. Terdapat kesenjangan yang terjadi antara elastisitas harga dan elastisitaspenghasilan. Ini disebabkan oleh adanya pamakaian air yang tidak terkontroldi msayarakat sehingga terjadi ketidaksesuaianantar jumlah air yang dipasok dengan jumlah air yang dipakai. Di USA dilakukan penelitian  untuk mengurangi kesenjangan tersebut. Metode yang digunakan antara lain metode increasing block rate tarif yang hasilnya adalah kebutuhan air menjadi lebih elastis dan elastisitas pendapatan menurun dan metode decreasing block rate tarif yang hasilnya berbanding terbalik dengan metode increasing block rate tarif. Namun dalam kenyataannya dari kedua metode ini kita tidak bisa menentukan mana yang akan menghasilkan elastisitas tertinggi karena hal ini bergantung pada kompleksitas masalah yang ada seperti kondisi geografis lingkungan, suhu, cuaca, dsb.

 

 

Price Elasticity Dynamics Over The Product Life Cycle:

A Study Of Consumer Durables

(Dinamika Elastisitas Harga Pada Siklus Hidup Produk :

Penelitian Mengenai Pemakaian Tahan Lama)

Philip M. Parker dan Ramya Neelamegham

Berdasarkan  penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Parker (1992) dan  Simon (1988) tentang pembelian pertama dan daya jual merk  menunjukan keseluruhan harga penjualan bersifat elastis. Berdasarkan pembelian pertama yang mendorong konsumen untuk melakukan pembelian kembali, menunjukkan bahwa hasil penelitian Simon tentang pentingnya daya jual merk, menjadi bukti empiris dari dinamika elastisitas barang tersebut. Contoh daftar barang sebagai berikut :

  1. Frezeers (-22,8)
  2. Kompor (-3,2)
  3. Kulkas (-2,3)
  4. Setrika uap (-2,2)
  5. Blender (-2,2)

Kesimpulannya adalah rata-rata tingkat elastisitas perabot rumah tangga -2,7.

Dari kelima barang tersebut yang memiliki elastisitas tertinggi adalah Frezeer. Karena Frezeer tidak mempunyai barang subtitusi, sehingga mau tidak mau konsumen menggunakan Frezeers untuk membekukan bahan makanan.

Kesimpulannya suatu produk pada umumnya mengalami tingkat inelastis tertinggi pada fase awal siklus hidup produk. Sedangkan produk tersebut mengalami elastisitas pada saat pembelian kembali pada fase puncak (maturity) di mana tingkat penjualan mencapai tingkat tertinggi. Setelah tahap maturity produk akan memasuki fase decline (penurunan). Pada fase ini, produsen perlu memperbaharui kembali produknya agar konsumen tidak mengalami kejenuhan. Sebab persaingan semakin ketat dan mencapai tingkat elastisitas tertinggi.

 

Economic Impact of Tourism and Globalization in Indonesia

(Dampak Ekonomi Pariwisata dan Globalisasi di Indonesia)

Guntur Sugiyarto, Adam Blake, dan Thea Sinclair

Globalisasi menimbulkan dampak baik dan buruk. Dulu globalisasi dianggap membawa efek buruk terhadap neraca perdagangan Indonesia karena dengan adanya perdagangan bebas (liberalisasi perdagangan) maka pemerintah membuat kebijakan dengan mengurangi tarif impor dan pengenaan pajak pada komoditas domestik. Hal ini tentunya akan berdampak pada sisi produksi karena dengan penurunan harga domestik maka membuat para produsen lebih kompetitif dalam bersaing dengan pesaing yang ada di pasar.

Globalisasi merangsang produksi dalam negri dan meningkatkan lapangan pekerjaan dan PDB.  Ini akan meningkatkan pendapatan rumah tangga dan menciptakan lebih banyak permintaan dalam pasar domestic. Perminytaan yang meningkat akan meningkatkan impor. Ini akan menurunkan tingkat produksi domestik dan berdampak pada menurunnya penerimaan pajak. Pajak yag berkurang memiliki dampak positif pada kesejahteraan dalam negri dan konsumsi rumah tangga meningkat dan memiliki dampak negatif karena pemerintah kurang mampu dalam membiayai anggaran pengeluaran.

Sektor pariwisata bisa menjadi solusi dari masalah tersebut. dengan meningkatnya pariwisata akan meningkatkan prosukdi dan penyerapan tenaga kerja.  Dengan adanya hubungan antara harga yang menurun, permintaan, dan income yang berjalan semakin tinggi dalam kasus ini sehingga dapat disimpulkan bersifat elastis. Pencegahan inelastis dilakukan dengan membuat kebijakan untuk menaikan harga saja dan menurunkan tarif pajak.

 

EMPIRICAL GENERALIZATIONS ABOUT THE IMPACT OF ADVERTISING ON PRICE SENSITIVITY AND PRICE

ANIL KAUL AND DICK R. WITTINK

 Cornell University

Respon konsumen terhadap promosi mengidentikasikan bahwa keputusan konsumen terhadap merk dan banyaknya jumalah produk terhadap potongan harga yg ada pada produk tersebut. dari informasi tersebut produsen akan membuat strategi periklanan yang akan mempengaruhi sensitifitas harga konsumen. Sensitivitas harga pada umumnya dirasakan oleh masyarakat tingkat menengah bawah yang sangat peka akan harga dan alternatif produk.

Jika sebuah merek memiliki pencitraan  yang kuat dengan konsumen maka cenderung memiliki pangsa pasar yang lebih tinggi dan lebih mudah untuk mencapai penetrasi pasar yang lebih besar dan akan menghasilkan lebih efisien  pengeluaran biaya dalam mempromosikan produk tersebut. Penelitan dimasa depan harus lebih berkonsentrasi pada aspek karakteristik iklan yang dapat mempengaruhi sifat atau besarnya interaksi dari iklan tersebut.

 

Pada tahun 1950-1970 menurut Steiner iklan sangat meningkat karena adanya peran sponsor dalam pembiayaan, karena iklan tidak hanya digunakan untuk menjual produk tetapi juga kepentingan-kepentingan lainnya seperti politik.

Pengaruh iklan terhadap elastisitas harga dapat dilihat dari rating iklan tersebut. Semakin tinggi nilai rating maka kepercayaan semakin sangat tinggi, hal ini akan mempengaruhi elastisitas konsumen dalam membeli barang karena semakin konsumen percaya akan suatu produk maka daya belinya akan semakin tinggi

 

Regional Differences in the Price-Elasticity of Demand for Energy

M.A Bernstein and J. Griffin

RAND Corporation Santa Monica, California

Departemen Energi telah melakukan riset terhadap beberapa sumber energi diantaranya, listrik rumahan, gas alam, dan listrik industri dengan tujuan mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi. Jika harga listrik naik maka ada tiga alternatif solusi yang dapat dilakukan, yaitu mengganti secara total, mencari substitusinya, dan  meminimalisir penggunaan listrik. Kenaikan harga tidak signifikan mempengaruhi penurunan permintaan.

Sedangkan jika ada kenaikan harga, konsumen tidak dapat mengurangi pemakaian listrik secara drastis hanya dapat berhemat atau menambahkan alat yang bisa mengefisiensi penggunaan listrik, seperti termostast dan dalam jangka panjang mereka akan mengkonversi listrik dengan sumber energi lainnya. Kenaikan permintaan juga dapat dipengaruhi oleh kenaikan income, income meningkat konsumen dapat saja membeli peralatan elektronik baru sehingga meningkatkan penggunaan listriknya. Elastisitas dipengaruhi dengan adanya barang substitusi dan barang komplementer.

Kondisi kasus ini jika harga listrik naik :

1. Dalam jangka pendek elastisitasnya à inelastis karena untuk sementara waktu konsumen tidak memiliki pilihan dan hanya dapat mencoba menghemat atau mengurangi penggunaan listrik dan belum banyak barang substitusinya sehingga konsumen tidak memiliki pilihan lain selain tetap menggunakannya.

2. Dalam jangka panjang elastisitasnya à elastis karena adanya penemuan inovasi–inovasi baru yang dapat menjadi subsitusi listrik.

Estimating the Effect of Urban Density on Fuel Demand

Niovi Karathodorou

Daniel J. Graham

Robert B. Noland

Penelitian ini dilakukan dengan cross-sectional data dari 32 negara besar dari eropa, Canada, asia, Australia dan amerika. Jurnal ini menjelaskan tentang mengevaluasi bagaimana kepadatan jumlah penduduk di perkotaan  dapat mempengaruhi permintaan relatif untuk bahan bakar transportasi jalan, memberikan perkiraan elastisitas yang sensitif terhadap pola fasilitas umum. Bahan bakar konsumsi per kapita terhadap kepadatan perkotaan diperkirakan dalam rentang -0.33 sampai  -0.35. Kepadatan penduduk kota terhadap permintaan bahan bakar yaitu inelastic, fenomena di kota yang terjadi, karena banyaknya fasilitas yang disediakan oleh pemerintah maka jarak yang di tempuh penduduk di perkotaan relative singkat. Pemakaian transportasi umum dapat menghemat pemakaian BBM sehingga dalam pemakaian BBM lebih efisiensi.

Kesimpulan :  Harga BBM mempengaruhi permintaan bahan bakar sebagian besar melalui variasi dalam konsumsi bahan bakar per km dan jarak mengemudi bukan kepemilikan mobil. Hal ini dapat mencerminkan harga bahan bakar tidak mempengaruhi permintaan mobil.

 

Are Life Insurance Demand Determinants valid for Selected Asian Economies and India?

Saat terjadinya krisis ekonomi, permintaan akan asuransi di Asia bersifat elastis. Hal ini disebabkan karena dengan adanya krisis, maka perekonomian terganggu dan mengurangi pendapatan masyarakat di Asia. Rendahnya pendapatan membuat standar hidup masyarakat asia pada kala itu rrendah, dengan pendapatan yang rendah mereka hanya mengutamakan untuk konsumsi.Maka perubahan harga asuransi akan sangat mempengaruhi jumlah permintaan akan asuransi.

 

Kemudian, dengan adanya perbaikan ekonomi setelah adanya  krisis membuat pendapatan masyarakat asia terus meningkat dan memiliki pendapatan yang cukup tinggi sehingga membuat standar hidup masyarakat semakin tinggi dan makin sadar akan pentingnya asuransi. Dengan demikian, permintaan terhadap asuransi pasca krisis ekonomi hinggga kini bersifat inelastic, atau perubahan harga asuransi tidak akan terlalu mempengaruhi jumlah permintaannya.

Playing With Fire:  Cigarettes, Taxes And Competition From The Internet

Rokok, Pajak, dan Persaingan dari Internet

Austan Goolsbee dan Joel Slemrod

Peneliti menganggap bahwa rorok bersifat inelastis sehingga menaikan pajak dan menghasilkan pendapatan yang besar di Amerika Serikat. Dengan masuknya internet konsumen dapat membeli rokok dari negara lain secara online sehingga tidak perlu membaya pajak kepada negaranya. Tingkat elastistasnya juga meningkat dari -1,28 menjadi -2,09 walaupun pajak sudah di naikkan 33%. Ini mengakibatkan munculnya msalah penyelundupan karen nilai pajak yang tingg sehingga produsen akan memilih menyelunupkan produknya.

Maka dapat disimpukan bahwa pajak rokok tidak sensitif terhadap permintaan rokok di Amerika Serikat. Dengan adanya internet juga membuat pendapatan negara menjadi kecil dan tidak mengurangi tingkat konsumen menjaga kesehatannya.

 

The Relative Importance of Price and Quality in

Consumer Choice of Provider:

The Case of Egypt

(Pentingnya Relatif Harga & Kualitas Pilihan Penyedia Layanan Konsumen : Kasus Mesir)

Winnie C. Yip

Aniceto Orbeta

September 1999

Kesehatan adalah hal yang penting sehingga diperlukan pelayannan kesehatan yang baik dan itu sudah sangat di mengerti oleh negara-negara maju. Pelayanan kesehatan terbagi atas sektor publik dan swasta. Ada dua kendala yang ditemui yaitu permintaan pasar untuk layanan dan penyediaan input. Hipotesa dari kasus yang ada di Mesir adalah, masyarakat Mesir lebih memilih sektor swasta dan rela membayar lebih tinggi demi mendapat kualitas yang terbaik. Hal itu dikarenakan penghasilan masyarakat Mesir yang rata-rata sudah mencukupi.

Jika penyedia melakukan penurunan harga maka akan ada pengorbanan kualitas, begitu pun sebaliknya jika terjadi peningkatan kualitas akan adanya peningkatan harga. Ada pula asumsi yang dapat diberikan adalah penyedia terlibat dalam persaingan harga. Berdasarkan asumsi ini, misalnya elastisitas kualitas meningkat, maka penurunan harga kemungkinan besar dicapai dengan efisiensi. Tapi kalau permintaannya inelastis, persaingan harga dapat menyebabkan kualitas yang rendah. Lain halnya jika penyedia cenderung lebih dalam persaingan kualitas, hal itu akan sangat penting untuk memahami aspek-aspek yang diinginkan konsumen. Jika konsumen responsif terhadap aspek kualitas yang meningkatkan hasil kesehatan, pemerintah mungkin lebih mengandalkan kekuatan pasar untuk menjamin kualitas layanan.

Dalam jurnal ini juga ada hipotesa proporsi relative bahwa sektor swasta memegang angka lebih tinggi dan rela membayar lebih tinggi dibandingkan memilih sektor publik yang kualitasnya terhitung rendah. Setelah itu pada penelitiannya ditemukan bahwa pasien lebih responsive terhadap kualitas dibanding harga. Itu karena kesehatan berhubangan dengan nyawa maka pengorbanan sejumlah materi pun akan dikorbankan. Selain itu pada penelitian terdalulu juga ditemukan bahwa elastisitas pendapatan pengeluaran perawatan kesehatan > 1 , dimana itu berarti bersifat elastis. Ini berarti seiring dengan bertambahnya pendapatan, maka porsi dari pendapatan juga akan lebih besar untuk pergi ke pelayanan kesehatan.

Tetapi hal ini tidak berlaku rata pada seluruh kalangan masyarakat, walaupun rata-rata masyarakat memang lebih responsive terhadap peningkatan kualitas, ini dikarenakan ada dua golongan income masyarakat.

 

Long term fuel price elasticity: Effects on mobility tool ownership and residential location choice

Jangka Panjang Elastisitas Harga Bahan Bakar: Dampak Perusahaan Kendaraan dan Bahan Bakar di Swiss

Alexander Erath

Efek jangka panjang dari kenaikan harga bahan bakar. Penelitian ini meneliti efek jangka panjang dari kenaikan harga bahan bakar. Berikut adalah hasil dari penelitian yang dilakukan :

Percobaan 1

Dampak Perubahan Harga atas Kepemilikan Kendaraan

Hasil penelitian : dengan naiknya harga bbm, masyarakat akan mengubah pola pikir mereka. Mereka menjadi enggan untuk memakai kendaraannya atau membeli kendaraan.

Percobaan 2

Harga Bahan Bakar di Wilayah Tertentu

Hasil penelitian : ada perbedaan harga di wilayah pedesaaan dan perkotaan, yaitu harga di perkotaaan lebih mahal daripada di pedesaan. Karena bedanya tingkat permintaan.

Percobaan 3

Efek Perubahan Harga di 2 Wilayah yang Berbeda

Hasil penelitian : di 2 wilayah yang berbeda, antara perdesaan dan perkotaan efek perubahan harga terjadi  karena sifat elastisitas di perkotaan bersifat elastis karena populasi di perkotaan lebih besar sedangkan di pedesaan bersifat in-elastis karena populasi masyarakatnya yang kecil.

Dengan demikian, efek jangka panjang yang akan terjadi adalah kemungkinan pendapatan substansian dalam  biaya transportasi terutama dalam harga BBM membuat orang bereaksi mengatur jarak tempuh dan mengubah jenis mobil dan memilih mesin yang lebih kecil atau lebih hemat bahan bakar seperti mobil hibrida/ diesel.

Untuk jangka panjang, elastisitas harga BBM berkisar antara -0,14 sampai dengan -0,54 dan diesel 0,32. diesel disini merupakan bahan pengganti yang disebabkan oleh responden yang mengganti mobil BBMnya jadi mobil diesel. Harga BBM naik tidak berarti menaikan atau menurunkan permintaan dari BBM tersebut, masyarakat lebih melihat efisiensi dari penggunaan bahan bakar yaitu dengan menggantinya dengan diesel.

Determinants of Indonesian Palm Oil Export: Price and Income Elasticity Estimation

Ambiyah Abdullah

2011

Indonesia adalah negara produsen dan eksportir minyak sawit terbesar di dunia karena indonesia menguasai 46% pangsa pasar sawit dunia. Sebagian besar dari produksinya diekspor. Sehingga, memperkirakan elastisitas harga dan elastisitas pendapatan dari permintaan untuk ekspor minyak sawit Indonesia sangat penting Melalui penelitian ini, elastisitas harga dan elastisitas pendapatan dari permintaan ekspor minyak sawit Indonesia adalah inelastic baik untuk jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek untuk ekspor sebesar 0,54 dan untuk income sebesar 0,61. Serta jangka panjang untuk ekspor sebesar 0,41 dan untuk income sebesar 0,49. Temuan ini sesuai dengan teori pada pangsa pasar, alokasi anggaran, dan penggunaan dari minyak sawit sebagai bahan baku untuk barang-barang seperti kosmetik, minyak goreng, margarine, dan ketersediaan dari barang substitusi untuk ekspor minyak sawit Indonesia.

Pajak ekspor adalah salah satu dari kebijakan yang diterapkan oleh Indonesia untuk minyak sawit agar mengendalikan harga minyak goreng local. Untuk kebijakan domestic dapat diterapkan dalam berbagai bentuk seperti subsidi produksi, program insentif pada penelitian diferensiasi produk (produk bernilai tambah), dan meningkatkan standar kualitas untuk ekspor minyak sawit Indonesia. Di masa yang akan datang, terdapat kebutuhan untuk menganalisis elastisitas harga dan elastisitas pendapatan dari produk-produk yang menggunakan minyak sawit sebagai bahan baku, terfokus pada sektor-sektor yang berlainan (perbedaan antara CPO dan minyak sawit murni) pada kasus-kasus negara pengimpor yang lebih spesifik dan menganalisa dalam penawaran ekspor dan model-model yang simultan.

Inelastis pada minyak sawit terjadi karena:

  1. Efek barang substitusi terhadap perubahan harga tidak terlalu besar
  2. Pilihan produk-produk lainnya sebagai barang pengganti jumlahnya tidak banyak

 

THE IMPACT OF FOOD PRICES ON CONSUMPTION: A SYSTEMATIC REVIEW OF REASERCH ON THE PRICE ELASTICITY OF DEMAND FOR FOOD

Tatiana Andreyeva, PhD, Michael W. Long, MPH, and Kelly D. Brownell, PhD

Fenomena yang terjadi di Amerika adalah elastisitas permintaan harga pada makanan tidak sehat lebih tinggi dari pada makanan sehat. Berdasarkan studi,31% yang memberikan perkiraan elastisitas harga daging sapi, 29% untuk daging babi, 14% untuk unggas, 10% untuk ikan, 15% untuk susu, 12% untuk keju, untuk sereal 12%, dan untuk buah dan sayuran 11%. Dari sini terlihat bahwa konsumsi pada makanan tidak sehat lebih tinggi dari pada makanan sehat.

Dalam menyelesaikan hal ini, peneliti berusaha menghubungkan pemberlakuan pajak dan subsidi untuk menganalisis dampaknya terhadap harga bahan makanan. Dengan menetapkan sejumlah pajak kepada bahan makanan yang kurang sehat, maka diharapkan permintaan akan bahan makanan yang kurang sehat menurun seiring dengan kenaikan harga karena pajak. Sebaliknya subsidi diberikan kepada bahan makanan sehat dengan tujuan untuk menurunkan harga sehingga permintaan akan bahan makanan sehat dapat meningkat, sehingga diharapkan dapat mengubah gaya hidup masyarakat Amerika Serikat menjadi lebih baik

Dengan pemberlakuan subsidi terhadap harga buah buahan dan sayur mayur menyebabkan penurunan harga sebesar 10%, dan berhasil meningkatkan permintaan akan buah dan sayur sebesar 7,0% untuk buah dan 5,8% untuk sayur, besarnya penurunan harga rupanya tidak meningkatkan permintaan secara signifikan sehingga harga buah dan sayur dikatakan inelastis.

Kesimpulannya harga bukan merupakan satu-satunya faktor yang dapat menyebabkan buruknya gaya hidup sebagian masyarakat di Amerika serikat yang dinilai dari tingginya konsumsi bahan makanan tidak sehat seperti fast food, namun ada hal lain yang mempengaruhi, salah satunya ialah gaya hidup. Terlihat walaupun sudah diberikan subsidi namaun permintaan tetap tidak meningkat. Orang orang di Negara maju cenderung memilih bahan makanan cepat saji dengan alasan efisiensi, sehingga meskipun harga dirubah, tetap saja tidak akan mempengaruhi permintaan akan barang barang tersebut, sehingga sayuran dan buah buahan yang tergolong bahan makanan sehat bersifat inelastic.

 

Trade Liberalization and Labor Demand Elasticity in

Indian Manufacturing

(Perdagangan Bebas dan Elastisitas Permintaan Tenaga Kerja pada Manufaktur India)

Bishwanath Goldar

Elastisitas permintaan tenaga kerja di industri pasca reformasi lebih rendah yang di akibatkan minimnya lapangan kerja yang tidah menyerap semua tanaga kerja, sehingga tingkat tenaga kerja mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan karena ukuran yang signifikan untuk liberalisasi perdagangan dan melemahnya kekuasaan serikat buruh.

Liberalisasi perdagangan menunjukan efek positif terhadap elastisitas permintaan tenaga kerja tetapi jika dilihat berdasarkan fungsi kerja, hal itu tidak menunjukan peningkatan elastisitas permintaan tenaga kerja pada masa pasca-reformasi dibandingkan dengan periode sebelum reformasi. Liberalisasi perdagangan juga dapat menyebabkan penurunan pangsa biaya tenaga kerja karena barang produksi yg setengah jadi atau belum dirakit produk dapat diimpor oleh perusahaan industri untuk digunakan dalam proses produksi bukan manufaktur dari tahap bahan baku, dan ini dapat menetralisir efek peningkatan elastisitas substitusi antara input dan elastisitas harga meningkatnya permintaan untuk produk-produk dari perusahaan industri dalam negeri.

Liberalisasi perdagangan meningkatkan elastisitas permintaan tenaga kerja.liberalisasi perdagangan memiliki dampak positif pada elastisitas permintaan tenaga kerja di industri India, elastisitas taksiran masa pasca-reformasi ini ditemukan lebih rendah dari itu untuk periode pra-reformasi.

Jadi, Perdagangan bebas dan permintaan tenaga kerja di Industry india bersifat elastis  karena permintaan akan tenaga kerja di India pada masa pasca reformasi mengalami peningkatan sedangkan biaya atau gaji untuk tenaga kerja selalu mengalami penurunan.